Gadis Korea Kagumi Pakaian Muslimah

OLEH SUKMA HAYATI ZAINI ALWY, Mahasiswa S-2 Jurnalistik di Penang – Malaysia.

Jelang Ramadhan, banyak muslimin dan muslimat membuat komitmen agar ibadah Ramadhan tahun ini lebih baik dari sebelumnya. Perbaikan diri tidak hanya dari segi ibadah puasa, tapi juga shalat juga sedekah. Di televisi para artis bersemangat menyambut Ramadhan dengan mengubah penampilannya menjadi lebih sopan lengkap dengan jilbab.

Berbicara tentang jilbab, saya teringat dengan seorang sahabat bernama Song-a Ki. Ia adalah gadis Korea yang juga berstatus mahasiswi pada salah satu universitas di Penang – Malaysia.

Dengan dana pendidikan dari pemerintah Korea, gadis muda yang biasa di panggil Song-a ini, datang dari Korea khusus untuk belajar Bahasa Inggris. Ia adalah tetangga saya di asrama kampus yang gemar memakai pakaian agak ketat, terbuka dan hobby bercelana pendek.

Suatu ketika, Song-a datang ke kamar saya. Dengan Bahasa Inggris yang masih beraksen Korea, Song-a dengan malu-malu meminta saya membantunya. Dengan senang hati saya mempersilahkan masuk dan menanyakan apa yang dapat saya bantu.

Betapa terkejutnya saya ketika Song-a meminta saya mengajarinya memakai pakaian muslimah lengkap dengan jilbab. Keterkejutan saya bukan tanpa alasan, Song-a adalah seorang non-muslim.

Ternyata Song-a penasaran untuk merasakan bagaimana memakai pakaian muslimah lengkap dengan jilbab. Sebelumnya, Song-a memang pernah mengatakan kepada saya bahwa ia sangat suka dengan jilbab. Hal ini karena warna dan gaya jilbab sangat beragam dan menarik, “jilbab is very cute, so fashionable”, ujarnya sambil menyentuh jilbab saya.

Song-a juga pernah bertanya, apakah jilbab merupakan fashion dalam masyarakat muslim? menjawab pertanyaan tersebut, saya mengajak Song-a melihat surat Al-Ahzab ayat 59 tentang menutup Aurat.

Dengan mengucap basmalah, secara perlahan dan hati-hati saya mencoba menjelaskan bahwa jilbab bukan hanya sekedar fashion dalam masyarakat Islam tetapi juga kewajiban yang harus ditaati karena tercantum dalam Al-Quran sebagai perintah Allah untuk melindungi para wanita.

Agar memudahkan pemahamannya saya juga membuat suatu perumpamaan yang pernah saya baca di internet, “jika ada dua permen, Song-a akan memilih permen yang mana? Apakah permen dalam keadaan terbungkus atau tidak terbungkus.” tanya saya.

Benar saja, Song-a memilih permen yang terbungkus dengan alasan permen tersebut masih terjaga kebersihan dan kualitasnya. “Ya, begitulah Islam menjaga kualitas perempuan, jilbab dan pakaian muslimah adalah kain pembungkus tubuh yang sesuai dipakai untuk menjaga kaum perempuan agar tidak terkontaminasi, dan dapat terhindar dari kejahatan seksual, sama seperti permen yang kamu pilih tadi”, lanjut saya.

Masih dalam keadaan terheran-heran, Song-a lagi-lagi mengejutkan alam bawah sadar saya yang masih teringat pada perbincangan kami sebelumnya tentang jilbab. Untuk kesekian kalinya Song-a kembali meminta kepada saya, “tolong ajari saya menutup aurat”, ulangnya.

Segera Song-a memakai baju melayu khas masyarakat Malaysia dan sehelai selendang berwarna merah jambu yang dibelinya. Melihat semangatnya, saya juga bersemangat menjadikan sehelai selendang menjadi penutup kepala yang bergaya.

Hasilnya, Song-a terlihat sangat cantik dan mempesona. Tidak sampai disini saja, Song-a dan saya antusias mengambil beberapa gambar dengan kamera dan berjalan-jalan keluar asrama menggunakan pakaian tersebut.

Song-a dalam balutan pakaian muslimah
Song-a dalam balutan pakaian muslimah

Dalam derap langkah kami, Song-a tiba-tiba mengatakan hal yang membuat saya bangga dan terharu menjadi seorang muslimah. Ia mengatakan, “saya merasa pakaian ini sungguh melindungi diri saya. Ketika saya memakai baju ketat dan celana pendek, lelaki sering memandang nakal ke arah saya dan membuat saya risih. Saya rasa pakaian ini juga bisa melindungi saya dari sinar matahari dan menjaga kulit saya”, ungkapnya sambil tersenyum.

Terbersik dalam hati saya, seorang non muslim seperti Song-a saja sangat mengagumi jilbab serta pakaian muslimah. Lalu mengapa wanita-wanita yang terlahir sebagai muslimah seperti di Aceh masih ada yang suka memakai pakaian ketat serta enggan memakai jilbab. Tidakkah hal ini sangat memalukan?

Semoga momentum datangnya ramadhan di tahun ini dan kisah kekaguman Song-a terhadap jilbab, menjadi penyemangat bagi wanita Aceh agar senantiasa istiqamah dalam menjaga aurat. Mudah-mudahan wanita Aceh tetap menjadi wanita-wanita yang berkualitas dan terlindungi kecantikannya dalam balutan pakaian taqwa sebagai identitas keislamannya. Aamiin. Ya Rabbal’alamiin..

* Tulisan ini pernah dimuat di Harian Serambi Indonesia – Minggu, 22 Juli 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s