Globalisasi, HIV AIDS dan Lingkungan

Marshall Mc Luhan pada tahun 1964 telah menggambarkan bahwasannya dunia ini akan menjadi sebuah perkampungan yang besar dan tidak memiliki batasan. Teori Mc. Luhan ini lebih dikenal dengan istilah “Global Village” (Mitchell & Nielsen, 2012). Teori ini dibangun untuk menggambarkan bahwa perkembangan teknologi komunikasi dan transportasi dapat membantu masyarakat untuk saling berinteraksi secara global antara satu dengan lainnya di berbagai belahan bumi ini. Globalisasi bukan hanya sekedar memudahkan interaksi dan perpindahan manusia saja, tetapi juga telah memungkinkan tersebarnya berbagai penyakit menular ke seluruh dunia. HIV AIDS adalah contoh penyakit menular yang telah meng-global. Penyakit ini banyak diderita oleh kelompok masyarakat pada usia produktif, yakni pada usia 15 – 49 tahun.

 

Pada awalnya, HIV AIDS hanya dikenal sebagai wabah yang ada di Afrika sub-sahara. Penyakit ini telah menjadi penyebab utama kematian penduduk Afrika. Seiring dengan perkembangan waktu, HIV AIDS mulai mewabah dan berkembang ke Amerika Serikat, dimana pada tahun 1981 telah menjadi penyebab utama kematian lima orang homoseksual yang ada di sana.

Di Indonesia, HIV AIDS tidak hanya ditemukan di kota-kota besar, tetapi juga sudah mewabah ke pelosok-pelosok desa. Data yang dikeluarkan oleh Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan RI menunjukkan, hingga tahun 2011 terdapat 76.879 kasus HIV, 29.879 diantaranya telah mengidap AIDS dan 5.430 dinyatakan meninggal dunia. Setiap tahun kasus HIV AIDS terus mengalami peningkatan yang signifikan dan meluas ke berbagai provinsi di Indonesia. DKI Jakarta, Jawa Timur, Papua, dan Sumatera Utara adalah diantara provinsi yang paling banyak memiliki penderita HIV AIDS (Departemen Kesehatan RI, 2012).

Di Aceh, wabah ini juga terus meningkat. Jika diurutkan, Provinsi Aceh berada pada peringkat ke-29. Pada tahun 2012 di Aceh terdapat 158 kasus HIV AIDS (Departemen Kesehatan RI, 2012).

Hal yang perlu dikhawatirkan adalah jumlah penderita HIV AIDS yang ada sekarang mungkin saja lebih banyak dari yang diperkirakan. Hal ini mengingat HIV AIDS sering diibaratkan seperti fenomena “gunung es”, apa yang terlihat di permukaan belum tentu menjamin realita yang sebenarnya.

AIDS dan dampaknya terhadap Lingkungan

Penyakit AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) disebabkan oleh HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang menyerang sel CD4 yang ada dalam tubuh manusia. CD4 merupakan sel yang berfungsi untuk menjaga dan memberikan kekebalan kepada manusia agar tidak mudah terinfeksi berbagai penyakit. Apabila sel CD4 melemah dan terinfeksi HIV, besar kemungkinan seseorang terjangkit penyakit AIDS. Namun, seseorang yang terserang HIV tidak serta merta positif terkena AIDS. Hal tersebut dikarenakan proses dari terinfeksinya HIV hingga menjadi AIDS membutuhkan waktu yang sangat lama, yaitu 8-10 tahun.

Dalam proses perpindahannya, berbagai jalur memungkinkan manusia terkontaminasi oleh HIV. Hal yang umum terjadi adalah melalui hubungan seks. Prilaku seks yang menyimpang dan sering berganti-ganti pasangan merupakan jalur subur terhadap penyebaran HIV. Selain itu, jarum suntik yang dipakai berulang-ulang dan tidak steril juga dapat menjadi jalan lain menularnya virus tersebut ke dalam tubuh manusia. Aktifitas transfusi darah juga dapat menjadi jalan penyebaran virus mematikan ini. Seorang ibu pengidap AIDS juga berpotensi menularkan virus tersebut kepada anak yang ada dalam kandungannya.

Selain membahayakan bagi manusia, HIV AIDS juga dapat memberikan masalah kepada lingkungan. Pada pendapat penulis, HIV AIDS dapat dikategorikan sebagai musibah dan bencana alam pada skala nasional, maupun international. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan HIV AIDS telah mengakibatkan bumi berada dalam atmosfer yang tidak sehat. HIV AIDS dapat menjadi salah satu faktor kerusakan lingkungan.

Penderita AIDS dapat berperan sebagai penyebab utama penyebaran virus dalam lingkungan sosialnya. Hal tersebut terjadi apabila interaksi yang dilakukan tidak sesuai dengan norma-norma atau nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.

 

Di beberapa negara miskin yang masyarakatnya berpendapatan rendah, HIV AIDS telah menjadi salah satu penyebab kerusakan lingkungan. Hal tersebut sebagaimana terjadi di Negara Tanzania. 5% atau 1,4 juta penduduk Tanzania positif terinfeksi HIV AIDS (Wahyuningsih, 2012). Akibat virus mematikan ini, masyarakat Tanzania banyak mengkonsumsi kayu untuk membeli obat dan membuat peti mati. Menebang pohon yang ada di hutan kemudian menjual kayunya adalah cara mudah dan cepat bagi masyarakat Tanzania mendapatkan uang untuk membeli obat yang mahal. Meningkatnya kematian yang diakibatkan oleh HIV AIDS di negara tersebut juga berdampak terhadap permintaan peti mati (Mwakitwange & Bashemererwa, 2008). Ini artinya, hutan dieksploitasi demi memenuhi keperluan tersebut.

Upaya Pencegahan

Perkembangan HIV AIDS dalam masyarakat yang sangat progresif dan belum ditemukannya obat yang dapat menyembuhkan, telah mendorong setiap negara untuk berupaya mengendalikan wabah ini melalui berbagai cara, baik melalui kampanye maupun penyuluhan. Negara bahkan telah mengeluarkan banyak biaya untuk mencegah berkembangnya HIV AIDS yang ada di dalam masyarakat.

Masalah HIV AIDS bukan sekedar masalah sosial, lingkungan dan juga kesehatan, tetapi juga telah menjadi masalah agama karena berkaitan dengan pengamalan nilai-nilai ajaran agama. Peran pemerintah mungkin tidak akan efektif jika masyarakat tidak taat pada ajaran agama dan  patuh dalam menjalani norma kehidupan yang berlaku.

Bagi masyarakat Aceh yang mayoritas muslim, pendekatan nilai-nilai ajaran Islam merupakan cara yang paling efektif dalam mengurangi dan mencegah merebaknya HIV AIDS ke dalam masyarakat. Melalui pendekatan tersebut, praktek seks bebas dan menyimpang dapat dicegah. Hal ini dikarenakan dalam Islam telah diperintahkan agar umat Islam tidak mendekati kepada hal-hal yang menjurus kepada zina. “Dan janganlah kamu menghampiri zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk (QS. Al–Isra’: 32)”.

Sukma Hayati Zaini Z. Alwy, Master Student School of Communication in Science & Environmental Journalism, Universiti Sains Malaysia, Pulau Pinang, Malaysia. Email: sukmahayati.zza@gmail.com

# Tulisan ini pernah di muat di Tabloid Gema Baiturrahman – Jum’at, 14 Desember 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s