Hadiah Kura-kura dari Sultan Aceh

OLEH SUKMA HAYATI ZAINI ALWY, Mahasiswa S-2 Jurnalistik di Penang – Malaysia.

Setelah dua setengah bulan lamanya saya menikmati liburan dan berlebaran, kini tiba saatnya saya kembali ke kampus dan meneruskan belajar saya di semester berikutnya pada salah satu universitas di Pulau Pinang, Malaysia. Ada rasa penasaran, kira-kira ada tantangan dan perjalanan apa yang akan saya hadapi pada semester ini?

Sebagai pelajar master pada bidang Science and Environmental Journalism (Kewartawanan Sains dan Lingkungan). Pada program ini saya diharuskan belajar berbagai ilmu lainya seperti Law (hukum), Science (sains), Society (sosial), Ecology (ekologi), dan Conservation (konservasi/pemuliharaan). Ilmu-ilmu tersebut saya perlukan untuk mendukung pengetahuan saya sebagai penulis lepas yang fokus terhadap isu sains dan lingkungan. Tidak hanya belajar di kelas, beberapa mata kuliah yang ditawarkan memiliki program field work (kerja lapangan).

Pada semester pertama untuk mata kuliah Ecology, kerja lapangan saya laksanakan di Aceh. Targetnya adalah untuk menganalisis bagaimana Ecology di kawasan Ulee Lheue. Hasilnya meskipun tujuh tahun tsunami telah berlalu, Ecology kawasan Ulee Lheue ternyata masih menghadapi berbagai persoalan salah satunya adalah masalah air bersih. Semester kedua kemarin, mata kuliah Conservation telah membawa saya dan beberapa teman ke Pusat Konservasi Hidupan Liar di Bota Kanan Perak, Malaysia untuk melaksanakan kerja lapangan. Disana kami akan melihat bagaimana lembaga konservasi milik pemerintah Malaysia tersebut melaksanakan usaha pemuliharaan (memulihkan kembali) satwa liar yang kehidupan dan populasinya terancam punah salah satunya hewan bernama tuntung. Lalu, apa itu tuntung?

Tuntung dengan nama latin Batagur baska atau Batagur affinis adalah hewan yang kita kenal dengan nama kura-kura/penyu air tawar. Di Malaysia, populasi tuntung menurun akibat maraknya budaya konsumsi telur tuntung, kematian yang disebabkan oleh pukat nelayan, perburuaan, serangan predator dan pembangunan. Meskipun bukan hewan yang menarik, dalam kitaran ekosistem tuntung mempunyai peranan yang penting dalam menjaga keseimbangan habitat sungai. Siapa yang menyangka, hewan yang banyak berkembang biak di sungai Kedah, Perak, dan Terengganu ini ternyata memiliki sejarah yang erat dengan bangsa kita Aceh.

Salah satu papan keterangan yang ada di Pusat Konservasi Tuntung Bota Kanan Perak dituliskan mengenai sejarah hikayat tuntung di Malaysia. Ceritanya pada zaman dahulu, Sultan Kedah pernah melakukan kunjungan ke Aceh dan bertemu dengan Sultan Aceh. Sebelum kembali ke Kedah, Sultan Aceh memberikan hadiah kepada Sultan Kedah berupa beberapa pasang tuntung. Hal yang sama ternyata juga dilakukan oleh Sultan Kedah kepada Sultan Perak pada saat kunjungannya ke Kedah.

Dari beberapa pasang ekor tuntung pemberian Sultan Aceh, oleh Sultan Kedah sepasang tuntung juga menjadi hadiah yang diberikan kepada Sultan Perak untuk dibawa pulang. tuntung tersebut kemudian dilepaskan ke Sungai Perak tempat dimana saat ini konservasi tuntung didirikan. Tuntung telah menjadi bagian sejarah dalam kerajaan Perak, hal ini karena Sultan Perak yang bernama Sultan Muzaffar Shah ke-II (Sultan ke-10 1636-1653) pernah membuat sebuah Upacara untuk melepaskan tuntung ke Sungai Perak.

Sayangnya tidak dituliskan secara terperinci tahun peristiwa diplomatik antara Sultan Aceh dan Sultah Kedah itu berlangsung. Selain itu tidak juga disebutkan secara jelas nama dari Sultan Aceh, dan Sultan Kedah yang dimaksud. Istimewanya, keluarga dan keturunan Sultan Perak sendiri hingga saat ini ternyata masih sering mengunjungi Pusat Konservasi dan Sungai Perak di Bota Kanan untuk melihat-lihat tuntung.

Sebagai pelajar yang datang dari Aceh, saya merasa kagum dan berbangga dengan hubungan diplomatik atara Aceh dan Malaysia yang telah berlangsung lama. Dalam jurnal berjudul Is Turtle Longevity Link to Enchanced Mechanisms for Surviving Brain Anoxia and Reoxygenation, hewan sejenis kura-kura/penyu mampu hidup dengan umur yang panjang hingga lebih dari 100 tahun lamanya. Hal ini disebabkan oleh otaknya dapat mengaktifkannya Reactive Oxygen Species-ROS (senyawa organik dengan gugusan fungsi atom oksigen yang membawa muatan elektron secara alami) yang mampu untuk mencegah dan memperlambat proses penuaan (Luzt, Prentice, & Milton, 2003, p. 797).

Secara filosofi saya coba garisbawahi, boleh jadi dahulu para sultan menjadikan tuntung sebagai cendramata berharap agar hubungan keduanya dapat berlangsung lama dan panjang umur sebagaimana umur tuntung. Hingga saat ini kita dapat rasakan bahwa hubungan Aceh dan Malaysia memang akrab, erat dan telah berumur panjang.

Kekaguman saya semakin bertambah-tambah saat saya menyadari bahwa kehidupan tuntung disana lebih terjamin dari segi kenyamanan serta keselamatannya. Ini karena sebuah peraturan pemerintah tentang perlindungan satwa liar telah diwujudkan untuk melindungi satwa liar seperti tuntung dari berbagai ancaman. Pemerintah Malaysia sadar meskipun pembangunan terus berlangsung, keselamatan alam dan satwa-satwa yang ada di dalamnya sangat perlu dijaga keutuhannya.

Respon positif juga ditunjukkan oleh masyarakat Malaysia yang mendukung peraturan tersebut. Dukungan ditunjukan dengan tidak berburu tuntung dan telurnya, berkerjasama dengan petugas konservasi untuk melindungi sarang telur pada musim mengeram dan menjaga bayi tuntung kembali ke sungai dari serangan predator pada saat musim pelepasan tiba.

Pemerintah dan masyarakat Malaysia tahu betul bahwa tuntung sebagai warisan alam yang masih tersisa perlu terus dilestarikan sebelum benar-benar punah seperti kura-kura/penyu air tawar yang ada di Cina. Selain itu, nilai sejarah yang ada dalam kisah perjalanan tuntung juga menjadi warisan sejarah yang perlu dijaga agar kelak anak cucu tahu bahwa hewan bertempurung ini pernah menjadi simbol hubungan diplomatik yang baik antara Aceh dan Malaysia. Lalu, apakah kita pernah melihat dan kenal dengan tuntung yang ada di Aceh? Kita tunggu usaha Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam Aceh untuk mencari jejaknya, memperkenalkan kembali hewan bersejarah ini dan menjadikan tuntung sebagai satwa liar yang dilindungi sebelum benar-benar lenyap dimakan zaman.

* Tulisan ini pernah dimuat di Harian Serambi Indonesia – Jumat, 7 September 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s