Metamorphosis Perempuan Aceh

PEREMPUAN Aceh adalah sosok yang tangguh dan pemberani. Jiwa dan raga dipertaruhkan demi membela marwah agama serta bangsanya. Namun, seiring perkembangan zaman, banyak perempuan Aceh yang kini berubah jauh dari karakter tersebut. Sebagian perempuan Aceh sekarang terlihat menjadi sangat ‘modern’, dinamis, dan edukatif. Namun, celakanya semakin lemah dari aspek nilai-nilai moral dan agama Islam. Dalam kesempatan ini, saya ingin mengajak pembaca untuk melihat dan menelaah kembali metamorphosis (perubahan) yang telah terjadi di kalangan perempuan Aceh, dari masa ke masa dalam sudut pandang sejarah dan perkembangan zaman.

Ismail Sofyan (1994) dalam buku “Wanita Utama Nusantara dalam Lintas Sejarah” menjelaskan, pada 1640-1699 Aceh pernah dipimpin oleh perempuan-perempuan hebat yang mampu memainkan peranannya dalam memajukan peradaban Aceh. Perempuan-perempuan hebat itu dikenal dengan sebutan “Sultanah”, di antaranya Sultanah Tajul Alam Safiatuddin Syah (1641-1675), Sultanah Nurul Alam Naqiatuddin Syah (1675-16-78), Sultanah Inayat Syah Zakiatuddin Syah (1678-1688) dan Kamat Syah Zairatuddin Syah (1688-1699).

Konsisten dan konsekuen

Selama 60 tahun lamanya, para Sultanah itu dalam rentang masa pemerintahannya mampu menjalankan roda kepemimpinan dengan baik. Sebagai pemimpin, mereka sangat menghargai hukum, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Mereka bahkan mampu memajukan dunia perdagangan di Aceh dan mencegah VOC melakukan praktik monopoli, sehingga masyarakat Aceh senantiasa dalam keadaan yang makmur dan sejahtera. Sebagai pewaris tahta dan seorang negarawan, para Sultanah tersebut sangat konsisten dan konsekuen dalam menjalankan setiap aturan negara. Mereka mempunyai wawasan dan pengetahuan yang luas, yang dibuktikan dari kemampuan mereka menguasai beberapa bahasa asing selain bahasa Aceh dan Melayu. Adapun bahasa lainnya tersebut adalah bahasa Arab, Spanyol, dan Persi (Subhan & Thayyibah, 2004).

Sifat dan sikap perempuan Aceh pada masa itu dikenal sangat tangguh dan pemberani, seperti ditulis Zentgraaff (1938, p.63) dalam bukunya berjudul “Atjeh” terbitan De Unie: “Toch zal men van al onze aanvoerders in de oorlogen, gevoerd in alle hoeken en gaten van dezen Archipel, hooren dat er geen krijgshaftiger en fanatieker volk is dan het Atjehsche, en dat de vrouwen van dit volk alle andere overtreffen in moed en doodsverachting. Zelfs overtreft zij in de verdediging der nationale zaak en religie de toch lang niet slappe mannen, en is, achter de schermen of openlijk, de leidster van het verzet”

Artinya: Betapa pun juga, dari semua komandan kami di medan perang yang terjadi disegala penjuru Nusantara ini, orang tahu bahwa tak ada bangsa yang lebih bersemangat perang dan fanatik dari pada bangsa Aceh, dan bahwa perempuan-perempuan bangsa ini melebihi yang lain-lain dalam hal keberanian dan pantang mati. Bahkan dalam membela bangsa dan agama, mereka ini jauh melebihi kaum pria yang juga tidak lemah. Mereka, kaum perempuan itu, diam-diam (dibalik layar) atau secara terbuka, memimpin perlawanan (diterjemahkan oleh Aboeprijadi Santoso, wartawan menetap di Belanda).

Menurut Zentgraaff, di Aceh, ada banyak, ratusan, bahkan ribuan perempuan-perempuan yang bermental baja dan pantang menyerah dalam mempertahankan agama Allah. Mereka cenderung lebih rela jika lelaki mereka menjadi syahid melawan penjajah kafir, daripada melihat lelaki mereka hanya duduk mendekam di rumah, dan enggan turun ke medan perang untuk membela agama Allah. Bagi mereka, fii sabilillah adalah lebih baik dan utama. Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Laksamana Malahayati, Pocut Meurah Intan, dan lain-lain merupakan icon perempuan Aceh yang gagah berani, disegani oleh kawan maupun lawan. Faktanya, jika di Eropa kesetaraan gender baru saja disuarakan oleh sejumlah feminist pada awal abad 18 (Smith, 1998). Di Aceh, kesetaraaan itu telah diimplementasikan sejak abad ke-16 oleh perempuan-perempuan hebat pada masa itu.

Jika kita kembali ke masa suram, karakter perempuan Aceh pada masa konflik sedikit complicated (sulit). Namun dalam masa itu pula, tidak sedikit perempuan Aceh yang menjadi tulang punggung dan menanggung beban hidup tanpa kehadiran para suami di sisinya.

Dalam buku karya Al-Chaidar, Sayed Mudhahar Ahmad, Yarmen Dinamika (1999) berjudul “Aceh Bersimbah Darah” digambarkan bahwa kondisi perempuan Aceh era 1989-1998 (masa DOM) mengalami tekanan emosional, mental dan fisikal. Perempuan pada masa itu amat menderita dan tertekan.

Konflik yang berlangsung selama hampir tiga dekade itu pun, telah memudarkan sedikit banyak kemuliaan kaum perempuan Aceh. Mereka kehilangan perlindungan, menjadi objek eksploitasi dan seringkali diperlakukan tidak adil oleh aparat keamanan dan para penegak hukum. Pada masa itu pula, mereka tidak dapat belajar dan mendalami ilmu ke sejumlah sekolah, dayah dan meunasah, karena suasana konflik yang amat mencekam. Banyak lembaga pendidikan formal maupun informal dibakar oleh orang tak dikenal (OTK). Bahkan para guru serta teungku kerap menjadi ‘tumbal konflik’ yang menyebabkan degradasi pengetahuan terjadi secara konsisten dan intens di Aceh.

Pascatsunami 2004, banyak perempuan Aceh ikut terlibat dalam upaya rehabilitasi. Begitu pula dalam proses damai Aceh, perempuan Aceh juga turut serta menyuarakan tuntutan perdamaian, mulai dari turun ke jalan hingga upaya diplomasi secara resmi. Perempuan Aceh kembali menunjukkan eksistensi mereka di tanahnya sendiri dengan melibatkan diri dalam berbagai ruang dan waktu, melakukan aktivitas publik (termasuk terjun ke dunia politik-ed.).

Menjadi tukang pamer

Di tengah kondisi Aceh yang semakin kondusif, lunturnya nilai-nilai spiritual di kalangan perempuan Aceh juga semakin terasa. Sejumlah perempuan Aceh di kota besar telah menjadi makhluk-makhluk hedonis yang mengutamakan penampilan, gemar ber-tabaruj, dan menjauh dari majelis-majelis ilmu, terutama ilmu agama. Banyak yang kemudian berbakat menjadi tukang pamer. Penyakit narsisme pun tidak dapat dielakkan dan kian tumbuh subur. Naluri tersebut kemudian semakin lestari apabila mereka bergabung dalam komunitas tertentu, mendeklarasikan diri sebagai fashionista dan sosialita yang dianggap berkelas.

Secara implisit, atsmosfer anti syariah mulai meracuni jiwa, pandangan dan sikap kebanyakan perempuan di Aceh. Secara eksplisit pula, kebanyakan perempuan Aceh semakin beraninya mempertontonkan aurat di muka umum, bermesraan dengan pria yang bukan muhrim di ruang publik dan lain sebagainya. Lebih miris lagi, jika ada beberapa survei yang mengungkapkan fakta banyak perempuan Aceh yang kehilangan kehormatannya sebelum mereka menikah.

Fakta tersebut kemudian semakin di dukung apabila media massa di Malaysia pernah menerbitkan sebuah laporan berita investigasi mengenai praktik prostitusi yang dilakoni oleh oknum imigran perempuan asal Aceh, di salah satu sudut kota Kuala Lumpur. Tentu saja, tingkah polah seperti ini pada akhirnya telah meninggalkan bekas dalam benak kita, betapa perempuan Aceh masa kini semakin kehilangan marwahnya.

Kembali melakukan tarbiyah (belajar) ke madrasah, dayah, dan meunasah merupakan satu solusi dan keharusan. Setiap perempuan di Aceh perlu mendapatkan pengetahuan umum agar dapat bersaing, tentu dengan tidak melupakan agama yang memang perlu dipelajari dan diamalkan secara kontinue dalam setiap ruang dan waktu. Dengan demikian, diharapkan setiap perempuan di Aceh akan kembali ke ‘jatidiri’ dalam menjaga marwah, martabat dan kehormatannya sebagai perempuan Aceh yang tangguh dan pemberani. Semoga!

Sukma Hayati Zaini Z. Alwy, Master Student School of Communication in Science & Environmental Journalism, Universiti Sains Malaysia, Pulau Pinang, Malaysia. Email: sukmahayati.zza@gmail.com

# Tulisan ini pernah di muat di Harian Serambi Indonesia – Sabtu, 19 Oktober 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s