Risiko Hidup tanpa Hutan

RISIKO sering ditafsirkan sebagai konsekuensi yang mungkin akan diterima dari sebuah tindakan. Sebut saja seorang yang berenang ke tengah laut, ia berisiko tenggelam atau diserang oleh predator. Bahkan menjadi seorang yang punya anugerah harta, tahta, dan pesona juga berpotensi mendapatkan risiko.

Sosiolog Ulrich Beck tentang teori Risk Society menegaskan, bahwasannya masyarakat selalu dibayang-bayangi oleh risiko. Lebih lanjut, Beck memberikan pemahaman bahwa risiko sewaktu-waktu dapat mengakibatkan terjadinya destruction (kehancuran) dalam kehidupan masyarakat (Beck, Adam, & Loon, 2000). Diakui atau tidak, situasi demikian sedang dirasakan oleh masyarakat Aceh.

Pada pandangan saya, risiko yang membayangi masyarakat Aceh saat ini timbul akibat aktivitas eksploitasi hutan secara berlebihan. Lalu, risiko apa yang akan membayangi masyarakat Aceh jika hutan terus dieksploitasi?

Risiko bencana
Sejak 2004, masyarakat dan Pemerintah Aceh sadar akan risiko bencana, seperti peristiwa gempa dan tsunami. Selain pengetahuan mengenai tsunami yang terbatas, sedikitnya hutan mangrove merupakan penyebab banyaknya korban jiwa dalam musibah tersebut. Padahal hutan mangrove bukan sekadar habitat tempat biota muara hidup, tetapi juga berpotensi sebagai penahan arus dan pemecah gelombang tsunami. Sehingga, besar harapan konsentrasi dan kecepatan gelombang tsunami dapat diminimalisir oleh hutan mangrove.

images (2)

Begitu juga dengan bencana alam di Tangse. Pembalakan liar diduga menjadi penyebab utama terjadinya banjir bandang dan tanah longsor di kawasan tersebut. Dugaan ini semakin kuat, seiring ditemukannya gelondongan kayu yang terbawa arus banjir. Rusaknya hutan memang berpotensi menyebabkan banjir dan tanah longsor terjadi. Hutan tidak lagi mampu menyerap air hujan untuk disimpan sebagai sumber cadangan air dalam tanah. Dengan hutan yang rusak, tanah juga tidak lagi kokoh karena sedikitnya akar pohon yang mengikat tanah.

Risiko kesehatan
Merusak hutan artinya mengubah iklim. Iklim berubah, kesehatan juga ikut terancam. Hujan yang terus menerus atau kemarau yang berkepanjangan akibat perubahan iklim, menyebabkan penyakit seperti infuenza, diare dan tipus akan lebih mudah dijumpai. Berbeda dengan virus dan bakteri yang dikatakan terus berevolusi, manusia justru kian melemah akibat perubahan iklim dan lebih mudah diserang penyakit. Tidak heran, jika saat ini kita juga dapat menemukan jenis flu baru seperti flu burung (H5N1), dan flu babi (H1N1).

flu-fighters1

Apa jadinya masyarakat Aceh jika tidak ada hutan? Mungkin masyarakat akan lebih mudah diserang virus-virus tersebut. Padahal fenomena “salah diagnosa” yang masih menjadi risiko utama terhadap kesehatan masyarakat Aceh, belum mendapatkan solusinya. Jangan sampai kelak kesehatan masyarakat semakin berisiko akibat flu burung atau flu babi didiagnosa sebagai flu biasa dan berujung menjadi wabah.

Risiko kemiskinan
Dari segi ekonomi, Aceh boleh dikatakan belum mapan. Hasil pendapatan yang tidak seimbang dengan biaya hidup mengakibatkan masyarakat Aceh berada pada tahap kurang sejahtera. Peluang kerja yang minim dengan tingkat pengangguran yang relatif masih tinggi juga salah satu penyebab masih tingginya jumlah masyarakat miskin. Lebih parah lagi, praktik korupsi yang masih subur ikut serta memiskinkan masyarakat menjadi lebih miskin lagi.

Untuk bertahan hidup dan mendapatkan uang, sebagian masyarakat Aceh masih memanfaatkan hutan sebagai sumber ekonomi. Begitu juga dengan pemerintah yang sering menjadikan hutan sebagai salah satu modal dalam pembangunan daerah. Pascatsunami, hutan Aceh paling banyak dieksploitasi dengan alasan untuk keperluan rehabilitasi dan rekonstruksi. Pascadamai kondisinya lebih parahnya lagi, jangan tanya tentang reboisasi (penanaman kembali). Sulit menemukan lahan bekas penebangan ditumbuhi tunas baru yang sengaja ditanam.

Saat ini mungkin kita masih dapat bertahan dengan kekayaan hutan Aceh. Namun jika terus dieksploitasi, bagaimana hutan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dimasa depan? Jika hutan Aceh terus dieksploitasi, bukan tidak mungkin Aceh akan miskin seperti Madagaskar. Eksploitasi secara terus-menerus dalam jangka panjang telah memusnahkan banyak hutan di Madagaskar. Saat ini sumber alam dan hutan di negara tersebut hanya tinggal sedikit. Karena terlalu miskin, hutan yang sedikit itu pun menjadi pemicu konflik akibat perebutan lahan (Chomitz, 2007).

Risiko perang
Meskipun saat ini Aceh telah berdamai dari konflik, bukan berarti Aceh terbebas dari risiko perang. Secara lokal, Aceh juga memiliki masyarakat yang plural dari segi pandangan, sikap, dan ideologi. Jika tidak dijaga dengan sikap saling menghargai, menghormati dan dilandasi rasa cinta damai, maka akan berpotensi menimbulkan konflik baru dalam masyarakat.

Secara internasional, hegemoni dunia barat dan zionis masih memegang kendali terhadap dinamika politik dan keamanan dunia. Negara-negara muslim seperti Afganistan, Palestina, Irak, dan etnis Rohingya telah dijadikan target perang oleh kolonial dan zionis. Aceh yang memiliki masyarakat plural dan etnis dengan paham Islam, juga berpeluang menghadapi risiko yang sama seperti negara yang telah saya sebut tadi.

Selain peperangan sesama manusia, masyarakat juga dihadapkan oleh peperangan dengan satwa liar seperti gajah dan harimau. Situasi ini merupakan dampak dari usaha manusia yang mengalihfungsikan hutan menjadi lahan terbuka untuk perkebunan, pertanian, industri dan pembangunan. Manusia telah menjadi kolonial yang menjajah kampung halaman para satwa liar. Wajar saja jika ada gajah yang memporak-porandakan perkebunan sawit, harimau yang menyerang warga, dan monyet yang mencuri hasil kebun.

Padahal jika hutan dipelihara kelestarian, ia bukan saja membebaskan masyarakat dari risiko perang dengan satwa liar. Hutan juga mampu menjadi benteng yang tangguh jika terjadi serangan oleh kolonial dan zionis. Sebagai contoh negara Vietnam yang pernah berperang dengan Amerika. Bukanya tewas karena tertembak, tetapi tentara Amerika justru mati dengan sendirinya akibat terjebak oleh jebakan-jebakan hutan yang dibuat oleh tentara Vietnam.hell on vietnam-war1

Apa jadinya masyarakat Vietnam tanpa hutan? Dan apa jadinya juga pejuang Aceh seperti Cut Nyak Dhien tanpa hutan? Hutan dengan sejuta misterinya, memang menjadi tempat bergerilya yang aman bagi para pejuang yang membela tanah airnya.

Menjaga hutan, bukan berarti Aceh tidak boleh melakukan pembangunan. Konsep sustainable development (pembangunan berkelanjutan) yang dipopulerkan oleh Brundtland, mantan PM Norwegia pada 1987, mungkin dapat menjadi strategi dalam pembangunan yang lebih baik. Pembangunan dapat tetap dilaksanakan di masa sekarang, namun tidak melupakan hak generasi mendatang terhadap sumber alam seperti hutan (Brundtland, 1987).

Kerena itu, pembangunan perlu berlandaskan pada keperluan, bukan berasaskan kehendak. Tidak tamak dengan kekayaan hutan yang ada saat ini adalah maksud dari pembangunan berkelanjutan. Jadi, perlu keseriusan pemerintah Aceh dan kerja sama masyarakat dalam melindungi alam, terutama hutan. Hal ini bertujuan agar kita semua dapat terhindar dari segala risiko.

Sukma Hayati Zaini Z. Alwy, Mahasiswi Master Jurnalistik bidang Science and Environmental di University Sains Malaysia. Email: sukmahayati.zza@.

# Tulisan ini pernah di muat di Harian Serambi Indonesia – Kamis, 9 Agustus 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s