Prof Madya. Dr. Hasnah Md Jais : “Pohon itu menangis …”

Kepedulian terhadap sains dan lingkungan membawanya menjadi dosen di salah satu universitas ternama di Malaysia yakni Universiti Sains Malaysia. Pakar kajian tanah dan cacing ini aktif mengajar dan menulis berbagai jurnal sains. Perkenalannya dengan cacing bermula sejak 10 tahun yang silam. Sejak saat itu, wanita ini benar-benar jatuh hati kepada cacing.

Ditengah jadwalnya yang padat Prof Madya. Dr. Hasnah Md Jais menyediakan waktu luangnya untuk saya wawancarai. Beliau berbagi pengalaman hidupnya dan memberikan saya berbagai pandangan yang baik untuk kita teladani.

Karir dan Keluarga

Tertarik dalam bidang sains juga lingkungan, Ibu lima orang cahaya mata ini sejah dulu telah mendalami ilmu tanah dan tumbuhan. Lulus sebagai sarjana muda pada tahun 1976 pada bidang plant pathology di Universiti Sains Malaysia. Beliau sempat bekerja selama enam bulan lamanya di salah satu perusahaan swasta, namun tidak bertahan lama karena kebosanan.

Merasa usianya pada saat itu masih muda, beliau mundur dari perkerjaannya kemudian melanjutkan pendidikan di University British Columbia. Hasnah kembali fokus mendalami ilmu sains tumbuhan dan menyelesaikan masters-nya pada tahun 1982. Kecintaannya kepada ilmu pengetahuan kembali dibuktikan dengan melanjutkan jenjang pendidikan hingga ke peringkat Phd. Walaupun telah menikah, Hasnah berhasil mendapatkan gelar Doktornya di Universiti Putra Malaysia dengan fokus studi dibidang soil cores.

Proses belajarnya bukan tanpa rintangan, mengandung dan melahirkan empat orang anak sambil berusaha meraih cita-cita adalah tantangan yang cukup berat. “Teman-teman saya sempat menyarankan agar saya berhenti belajar. Namun tekad saya kuat, saya ingin mendapatkan cahaya mata sekaligus gelar Doktor” kenangnya. Baginya di dunia ini cukup mempercayai kuasa Allah, karena Allah-lah yang menentukan kehidupannya.

26 tahun menjalani karirnya sebagai dosen di Universiti Sains Malaysia, Hasnah tetap rendah hati dan merasa masih perlu belajar. Hasnah mengaku dirinya senantiasanya terbuka dan mahu belajar walaupun pengetahuan dan ilmu tersebut datangnya daripada mahasiswa. “saya suka mahasiswa yang gemar bertanya, apa lagi menyalahkan saya kemudian menjelaskan apa yang diperoleh dari pembacaannya. Boleh jadi, saya memang belum pernah membaca apa yang dibaca olehnya. Dengan demikian saya juga belajar dan mendapatkan ilmu baru” katanya

Beruntung Hasnah mendapat kepercayaan dari keluarga dan tidak mendapat kekangan saat Ia memilih berkarir sebagai pendidik dan peneliti di tempat ia bekerja. “mereka tidak peduli jika saya yang sedang asyik bersama tanah dan cacing, itu artinya mereka mendukung apa yang saya suka dan menjadi kecintaan saya” ujar dosen yang suka bergurau ini.

Meskipun hari-harinya dipadati dengan aktiviti akademik, Hasnah tetap meletakkan keluarga sebagai prioritas utama “Anak-anak saya didik sendiri, di ruangan kerja saya mereka tumbuh besar dan berkembang. Saya bersyukur ruangan ini telah buat kami jadi lebih dekat, karena sempit” kenangnya sambil tertawa. Mendidik anak-anak dan mengajarnya sendiri adalah lebih baik. Karena ketulusannya itu, kini anak-anak wanita berkulit putih ini mampu bersaing di kancah dunia Internasional dan saat ini memilih bekerja di Benua Amerika dan Eropa.

Zikir Alam

Prof Madya. Dr. Hasnah Jais tergolong wanita yang unik. Beliau amat mencintai alam dan hobby mengunjungi sejumlah hutan. Tujuannya hanya untuk sekedar berdiskusi dengan alam. Sedikit membingungkan, jika mendapati wanita cerdas ini sering berkomunikasi dengan alam. Komunikasi bagaimana yang dilakukan oleh Hasnah ?

“Saya berkomunikasi dengan alam bukan menggunakan mulut saja, tetapi juga penglihatan, pendengaran, dan perasaan yang mendalam”. Menurutnya berkomunikasi dengan alam adalah salah satu cara berzikir mengagumi dan bersyukur kepada Allah.

Dr. Hasnah menilai alam tidak egois dan dengki dengan sesamanya dan Allah menciptakan alam ini dengan sebaik-baik penciptaan, “Jika diperhatikan secara seksama, setiap pohon itu punya kanopi-nya sendiri-sendiri. Namun kanopi tersebut tidak saling mengganggu satu sama lain. Pasti ada celah yang memberikan peluang kepada daun atau tumbuhan lainnya terkena sinar matahari” ujarnya.

Seketika airmatanya jatuh saat menceritakan prilaku manusia yang semena-mena terhadap pepohonan. Ia menyakini, bahwa pohon yang selama ini ditebang merasa sedih. “Ketika pohon ditebang dan hendak jatuh ke tanah, sebenarnya pohon itu menangis. Mereka yang sering menebang pohon di hutan mengaku kepada saya sering mendengar suara menyerupai tangisan” ungkapnya sembarai mencontohkan suara yang dimaksud dengan perasaan haru.

Saat ditanya apa pandangan beliau mengenai cacing, wanita yang menyukai buku berjudul Even Angle Ask inimelihat cacing seperti melihat malaikat. “Cacing terus bekerja melaksanakan kewajibannya, seperti malaikat ia tunduk dan terus bekerja sesuai dengan perintah Allah”. Cacing senantiasa akan memakan sampah organik dan mendaur ulang sampah tersebut sehingga bermanfaat bagi kesuburan tanah.

Di akhir perjumpaan Prof Madya. Dr. Hasnah Md Jais menyampaikan harapannya agar semakin banyak orang lebih menghargai alam. “Tindakan yang sederhana seperti membuang sampah berdasarkan tempatnya dan mendaur ulang sampah adalah salah satu cara untuk menghargai alam,” ungkapnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s