Selamat Jalan Guruku Tercinta, Ibu Nurfaridah

Ping, saya menerima pesan singkat dari seorang teman:

“Innalillahi Wa Innailaihi Raaji’un. Telah meninggal dunia Ibu guru kita Nurfaridah hari ini (Senin, 20/4/2015) di Malaysia, akibat kanker payudara. Mohon doanya semoga Almarhumah diberi tempat terbaik disisi-Nya. Aamiin..”

Saya terkejut, mendengar guru kesayangan saya semasa di Sekolah Menengah Pertama itu meninggal dunia. Masih dalam keadaan tidak percaya, saya coba mencari tahu langsung dari keponakan Almarhumah yang juga teman baik saya semasa kuliah di Malaysia. Bang Jefri namanya, “Bang betul kabar Bu Nurfaridah meninggal?” Tanya saya dan Jefri membenarkan kabar tersebut.

Keterkejutan saya ini bukan tanpa alasan, setahu saya dalam kurun waktu satu tahun terakhir, Ibu masih dalam keadaaan yang sehat dan bugar dan tidak terdengar informasi dari warga jika beliau menderita kanker. Justru, selama ini beliau sangat telaten merawat suaminya yang menderita stroke sejak tiga tahun terakhir.

Oleh karena itu, ketika mendengar kabar berpulangnya Ibu Nurfaridah ke pangkuan Ilahi, saya diselimuti rasa tidak percaya. Hal yang sama juga dirasakan oleh teman-teman seangkatan di SMP dan oleh warga Desa Jantho Makmur.

Karena beliau meninggal di luar negeri, maka dipastikan jenazah almarhumah dapat dipulangkan ke tanah air pada keesokan harinya, Selasa (21/4/2015). Pada hari tersebut, bersama suami dan anak perempuan saya, kami mengunjungi rumah duka yang berada di kawasan Kajhu, Aceh Besar. Tepat di bibir gerbang rumah, sudah ada suami Almarhumah, Pak Ali nampak sangat berduka dan masih menantikan ketibaan jenazah di muka rumah.

Saya menyalami beliau, dan memperkenalkan diri. Setelah mengalami stroke, Pak Ali sedikit bicara dan ingatan beliau mulai menurun. Sorot matanya nanar dan kelihatan basah, mungkin ia baru saja menangis. Agar hatinya tidak semakin membiru, saya memilih untuk tidak bertanya apapun dan memberinya senyuman empati.

Di dalam rumah duka, sudah hadir para pelayat yang terdiri dari saudara-mara, kerabat dan sahabat, mereka juga hadir dan sabar menantikan ketibaan jenazah. Saya kemudian bertemu dengan Nanda, putri kedua almarhumah. Disela kesibukannya mempersiapkan keperluan pengurusan jenazah, Nanda menceritakan hari-hari jelang keberangkatan guru kami tercinta ke Malaysia yang ternyata dilanjurkan dengan perjalanan menuju pangkuan Ilahi.

Bersama putri pertamanya Dessy, Almarhumah berangkat ke Malaysia untuk memeriksakan kesehatan dirinya yang semakin menurun. Rasa sakit didada yang tak kunjung sembuh dan tidak jelasnya diagnosa dokter yang ada di Banda Aceh, memicu keluarga untuk memberikan perawatan yang lebih baik di Malaysia.

Sesampai di negeri jiran Malaysia, Almarhumah dinyatakan menderita kanker payudara dan diperkirakan hanya memiliki kesempatan hidup sebesar 10%. Upaya operasi pengangkatan benjolan yang tumbuh dipayudaranya sulit dilakukan karena sel kanker telah menyebar luas.

Keluarga akhirnya memutuskan untuk membawa pulang kembali Almarhumah. Setibanya di bandara setempat, tiba-tiba kondisi Almarhumah kian melemah dan tidak sadarkan diri.

Pihak maskapai kemudian memutuskan untuk tidak mengikut sertakan beliau dalam penerbangan dan segera membawanya ke rumah sakit terdekat. Setibanya di Rumah Sakit Putra Jaya, oleh tim medis Ibu Nurfaridah dipastikan tutup usia.

Tepat pukul 16.00 wib, jenazah tiba di rumah duka. Pelayat menyambut jenazah dengan lantunan shalawat. Suami dan anak tercinta tampak tegar menghadapi kenyataan, anak-anak sudah sepakat untuk berusaha kuat untuk menjaga perasaan Ayah mereka yang sensitif setelah mengalami stroke.

Saya sempat melihat wajah almarhumah yang tampak seperti sedang tertidur. Sekelibat perasaan saya menjadi berduka, sedih dan tidak terasa air mata menggenang dikelopak mata.

Terbayang beliau yang pertama kali mengajar ilmu Ekonomi kepada saya dan teman-teman. Beliau juga merupakan wali kelas ketika saya duduk di kelas satu SMP. Kelembutannya dan sikapnya yang penyayang, menjadikan almarhumah sebagai guru terfavorit di sekolah kami dan semua murid mencintainya.

Dalam perjalanan hidup saya terutama dalam bidang pendidikan, beliau amat sangat berjasa. Beliau adalah figur yang paling berpengaruh dalam hidup saya. Beliaulah yang mampu meluluhkan hati saya ketika bersikeras tidak mau berangkat mondok ke pesantren KH. Abdullah Syafi’i di Batavia.

Ketika Mama kehabisan akal untuk meyakinkan saya agar mau berangkat sekolah ke Jakarta. Mama kemudian meminta agar Almarhumah menasehati saya. Melalui pendekatan anak remaja, Ibu Nurfaridah berhasil menggerakkan hati saya agar mau mewujudkan harapan kedua orang tua saya.

“Berangkat Nak, pergi sekolah ke Jakarta. Mama dengan Ayah, mau yang terbaik untuk Sukma. Gak rugi dengar nasihat orang tua”, nasihat Beliau.

Berkat nasihat itu pula saya menjejakkan kaki di Ibukota Negara Republik Indonesia itu. Berkat nasihatnyalah, saya kemudian mencintai ilmu dan terus merantau hingga keluar negeri. Berkat nasihatnya pula, kini saya juga menjadi seorang pendidik di perguruan tinggi.

Beliau amat berbangga dengan keputusan yang telah saya ambil, setiap kali bertandang ke rumah beliau, di hari raya. Beliau akan membesarkan hati saya dengan mengatakan bahwa dirinya amat sangat berbangga dengan pencapaian saya.

“Ibu sering ceritakan kisah Sukma kepada adik-adik kelas Sukma di SMP, Ibu bangga sekali punya murid yang bisa belajar jauh-jauh,” ungkap beliau kepada saya.

Mendengar ungkapan itu, saya menjadi terharu sekaligus bersyukur atas pilihan hidup yang telah digariskan oleh Allah. Dengan demikian, saya telah menyenangkan hati orang-orang yang saya sayangi.

Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Namun segala pengorbanan-nya dalam mencerdaskan dan membentuk moral budi pekerti yang baik setiap anak didik-nya merupakan amalan yang akan membantu beliau di hari akhir. Sebentar namun amat berkesan.

Pada akhirnya hanya terima kasih yang dapat saya ucapkan. Terima kasih atas jasa dan nasihat yang pernah almarhumah berikan, sehingga saya dan ribuan murid-murid lainnya menjadi manusia yang berguna. Dan pada hari pemakaman berlangsung, kami murid-murid beliau berkesempatan hardir dan ikut menjadi jama’ah shalat jenazah, mendoakan dan mengantarkan beliau ke tempat peristirahatan yang terakhir.

Selamat jalan Ibu Nurfaridah Binti Abdul Rani Bidin, guru ku tercinta. Semoga Allah memudahkan urusanmu di alam barzah dan menempatkan Beliau di Syurga-Nya. Aamiin..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s