Man Jadda, Wajada. Man Shabara, Zhafira.

Ketika seorang pendidik memberikan tugas tapi mahasiswa tidak mengerjakan dengan alasan lupa, disitu kadang saya merasa sedih 😥

Tidak hanya sedih tapi juga kecewa. Seperti orang putus cinta, ketika harapan diberikan, eh kenyataannya bertepuk sebelah tangan. Pedih T_T.

Saya kemudian berfikir apa yang salah dari diri saya. Perasaaan saya sudah mempersiapkan semuanya sesuai dengan SAP, Silabus dan ikut kepada kurikulum yang telah diatur oleh Universitas.

Gaya belajar yang saya sampaikan juga bisa dibilang tidak terlalu konvensional. Memberikan sedikit materi, kemudian meminta mahasiswa melakukan praktek di lapangan, nantinya sama-sama kami akan mengevaluasi hasil kerja yang sudah dilakukan.

Saya pikir dengan memberikan tugas lapangan, mahasiswa akan mengimplementasikan teori yang sudah diberikan di dalam kelas. Di lapangan, mahasiswa bisa mendapatkan lebih dari apa yang diberikan Dosen di dalam kelas.

Kenapa harus memberi tugas? aargggggghhhh. Jangan harap, mahasiswa zaman sekarang punya inisiatif untuk memperdalam ilmu dan mengkaji teori serta materi yang sudah diberikan oleh Dosen. Mahasiswa zaman sekarang, sibuk sekali. Banyak kegiatan terutama di organisasi dan komunitas.

Oleh karena itu, dengan memberi tugas, mahasiswa mau tidak mau harus melakukan kewajibannya (meskipun terpaksa). Tugas akan membawa mahasiswa membaca buku yang bermanfaat dan melakukan berbagai aksi lainnya yang bisa menambah khazanah keilmuannya.

Namun, jika target itu tidak terpenuhi dan mahasiswa tidak serius menanggapi arahan yang diberikan. Sungguh, sakitnya tu disini —–> tunjuk ke hati dan otak.

Oleh sebab itu, pagi ini (Jum’at, 24/4/2015) perkuliahan yang saya ampu, tiba-tiba berubah menjadi ceramah agama dan training motivasi (hahahaha). Hal ini saya fikir perlu saya lakukan, sebagai seorang pendidik, saya tidak ingin menjadi Dosen yang hanya mengedepankan nilai yang kasat mata, tetapi abai terhadap mentalitas mahasiswanya.

Atas persoalan yang terjadi, saya coba menganalisa, jika seorang mahasiswa terlebih aktivis kampus tidak mampu menyelesaikan tugas mingguannya, artinya adalah masalah yang sedang dihadapinya.

Masalahnya bisa beragam, bisa jadi karena terlalu banyak kegiatan organisasi, terlalu banyak tugas, ada aktivitas lain diluar kuliah dan organisasi (misalnya, kerja atau berumah tangga), atau bahkan masalah utamanya adalah karena MALAS. Ini yang bahaya !!!

Kepada mahasiswa saya berkata, bahwa manajemen waktu yang baik akan membantu kita untuk menyelesaikan semua pekerjaan dan kewajiban, disiplin adalah kunci utama. Namun dalam hidup ini, kita sebagai manusia juga harus bisa menentukan sebuah pilihan. Pilih mana yang menjadi skala prioritas dari mahasiswa itu sendiri, apakah belajar? organisasi? komunitas? pekerjaan? atau keluarga?

Kita bisa memilih dua diantara empat. Kalau pilih tiga, maka anda harus menjadi boboboy kuasa tiga. Badan anda harus siap dibelah menjadi tiga (hahahah, kebanyakan nonton kartun saya).

Realistis dan logis dengan apa yang sedang dihadapi. Abaikan ego, gengsi dan gosip yang beredar (apa coba?)

Dosen pun bukan makhluk kejam yang tidak berperi kemanusiaan, setiap kesulitan bisa saja sampaikan kepada dosen untuk dicarikan solusi terbaik. Asalkan jelas apa yang menjadi masalah selama ini, artinya bukan hambatan atau alasan bukan sengaja dibuat-buat dan direkayasa.

Ketika menyampaikan persoalan, gunakan bahasa yang baik dan benar, jangan asal dan tidak menghargai profesinya sebagai seorang pengajar. Hormat guru itu berkat.

Setiap mahasiswa mungkin perlu ingat, bahwa selama 3-4 tahun mengenyam S1 di Universitas, mahasiswa harus punya satu tujuan yang ingin dicapainya kelak. Cita-cita namanya. Mahasiswa harus menjadikan cita-cita itu sebagai motivasi yang bisa memecut diri untuk terhindar dari kemalasan.

Cita-cita yang digantung juga harus setinggi langit, sehingga usaha yang akan dilakukan juga menjadi lebih dari biasanya. Orang yang lemah, akan kuat juga ia berusaha dengan gigih.

Ketika menuntut ilmu, kesabaran juga menjadi kunci utama sebuah kesuksesan. Setiap kesuksesan peserta didik adalah kebanggaan bagi pendidiknya. Sebagai seorang dosen, saya akan merasa bahagia jika melihat murid saya mampu terbang lebih tinggi dari saya.

Mungkin kata-kata hikmah ini bisa menjadi motivasi bagi siapa saja yang membacanya, bahwa barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan dapat. Dan barang siapa yang bersabar, maka ia akan beruntung.

Man Jadda, Wajada. Man Shabara, Zhafira.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s