Cerita Kopi Kala Hujan

Langit mendung, rintik gerimis bergemericik menyentuh apa saja yang menimpanya, termasuk tanah yang kini berubah warna menjadi lebih gelap karena basah.

Pagi ini tidak secerah biasanya. Kami yang tinggal di rumah toko ditepi jalan alternatif menuju kampus, terlihat lengang dan sepi deru knalpot kendaraan yang hilir mudik. Hanya beberapa saja yang lewat dan itupun bisa dihitung dengan jari.

Aisyah, putriku yang masih semata wayang ini pun agak sulit untuk bangkit dari tilam tidurnya. Udara yang sejuk tanpa pendingin ruangan membuat Aisyah ogah-ogahan membuka mata. Berbagai alasan dilontarkan saat Ummi dan Abi mulai menggodanya untuk segera bangun. Aisyah berhenti untuk malas ketika Ummi mengiyakan untuk dia tidak sekolah dan tidak ada izin lagi menonton televisi hingga lewat pukul 9 malam.

Dengan raut wajah yang kusut dan perasaan kesal, tubuhnya yang masih lunglai dibuai kantuk menuju kamar mandi dan bersiap selayaknya anak sekolah kebanyakan.

“Aisyah tenang saja, jika air sudah membasahi wajah dan tubuh Aisyah, rasa ngantuk dan malas yang Aisyah rasa akan segera sirna” ujar saya sambil merapikan pembaringan si anak manja itu.

Beberapa menit kemudian, Aisyah siap berangkat ke sekolah dan Abi siap mengantar tuan putri menuntut ilmu. Dua manusia kesayangan saya telah pergi menunaikan kewajibannya. Saya pun punya kewajiban. Membereskan yang terserak di rumah dan mengembalikan mode rumah agar kembali nyaman dan sedap dipandang.

Tapi, hari ini saya hanya mampu membereskan tilam dan merapikan meja makan saja. Tugas lainnya seperti mencuci piring dan pakaian kotor enggan saya kerjakan karena ada perasaan sejuk yang teramat sangat. Bahkan untuk mandi pagi saja, saya berusaha agar secepat mungkin keluar dari lahan basah itu. Terkadang cuaca bisa mempengaruhi mode seseorang.

Saya ingin suasana mendung ini menjadi lebih hangat. Segera saya menuju pantry dan menyeduh “Kopi Toraja” buah tangan dari adik angkat saya Adly yang baru kembali dari Sulawesi setelah selesai menjalankan tugas sebagai pemuda bina desa utusan kementerian pemuda dan olah raga RI.

Baru seminggu ia kembali dari sana. Untuk saya, Adly menghadiahkan sehelai kain sonket cantik dan dua bungkus kopi Toraja yang dibelinya saat singgah di Makasar. Penasaran dengan rasanya, saya segera menyeduhnya.

Saya bukan pecandu kopi, meskipun tinggal di kota yang kabarnya punya lebih dari seribu warung kopi, Banda Aceh. Saya tetap harus berhati-hati memilih kopi. Jika salah memilih kopi, maka jantung saya akan berdegup kencang sekali dan itu amat sangat mengganggu.

Kopi jenis arabica merupakan jenis kopi yang ramah untuk saya dan kopi toraja yang Adly hadiahkan sesuai untuk saya.

Dua sendok teh kopi ditambah tiga sendok teh gula dalam segelas mug adalah racikan yang pas untuk saya kala ini. Sambil menatap hujan dibalik pintu dapur, perlahan saya menghirup aromanya yang harum dan sesekali menyeruput perlahan.

Bicara soal kopi, saya pernah terlibat diskusi tentang kopi dengan seorang teman yang saya kenal di facebook. Teman saya itu sepertinya sering minum kopi. Sekali waktu saya ikut berkomentar statusnya tentang kopi.

Kami bersepakat bahwa dalam dalam meracik dan menikmati kopi tidak ada rumus benar atau salah. Persepsi setiap orang akan berbeda tentang bagaimana cara dan rasa kopi yang nikmat. Suatu hal yang amat personal.

Saya pribadi tidak tahu kapan pastinya pertama kali mengenal kopi. Namun, kopi encer kakek adalah favorit saya. Sejak tinggal bersama kakek di Lhokseumawe, beliau tidak pernah menghabiskan sendiri kopinya itu. Selalu ada kopi yang disisakan untuk saya.

Setiap bangun tidur saya pasti akan ke meja baca kakek dan langsung menenggak kopi encer langsung dari ceret. Kebiasaan itu terus berlangsung selama dibawah pengasuhan kakek dan nenek saya.

Saat usia sepuluh tahun, saya tidak lagi diasuh kakek dan nenek. Saya diboyong kedua orang tua dan tinggal di Kota Jantho, sebuah kota pusat pemerintahan untuk kab. Aceh Besar.

Sama halnya dengan kakek, Ayah saya juga pecandu kopi. Hanya saja, jenis kopi yang diminum ayah berbeda dengan kakek. Kopi ayah lebih kental, pekat dan manis. Tempat menyeduh kopi ayah juga berbeda dari kakek. Ayah sering menyeduh kopi dalam wadah yang disebut gayung, bukan ceret. Bubuk kopi ayah juga punya tekstur yang lebih kasar ketimbang bubuk kopi milik kakek yang halus seperti tepung.

Bubuk kopi ayah merupakan kopi asal Seulimum dan yang membuatnya adalah orang etnis thionghoa bernama Ny. Afuk. Sepanjang sepengetahuan saya, keluarga Ny. Afuk sudah sejak lama menekuni bisnis pengolahan kopi. Saat konflik berkecamuk di Aceh, keluarga Ny. Afuk tetap berniaga kopi. Menurut cerita Ayah, Ny. Afuk merupakan satu-satunya etnis thionghoa yang sudah lama menetap dan bertahan di kawasan Seulimum, Aceh Besar.

Sejak tinggal bersama ayah, saya tidak pernah lagi minum kopi langsung dari mulut ceret. Bisa dikatakan saya sudah mulai kurang minum kopi. Justru selama tinggal bersama ayah, saya lebih sering membuatkan kopi untuk Ayah. Mama yang mengajarkan saya membuat kopi.

Karena gayung kopi Ayah lumayan besar maka antara bubuk kopi dan gula perbandingannya adalah 2:1. Tiga sedok makan bubuk kopi, enam sendok gula. Tidak boleh kurang dan tidak boleh lebih. Bisa dibayangkan betapa pekatnya kopi Ayah !

Jika kakek minum kopi hanya saat memulai dan menutup hari, maka ayah menjadikan kopi sebagai minuman sepanjang hari. Dalam sehari Ayah bisa minum sampai tiga gayung kopi sehari. Beliau bahkan nyaris tidak minum air putih, kecuali air putih yang sengaja kami hidangkan ketika makan siang.

Saking maniaknya dengan kopi ada anekdot yang dibuat oleh Mama, “Kelak, jika ayah sudah tiada, kalian tidak perlu membawa air kembang untuk menyiram pusara ayah. Cukup bawa segayung kopi dan siramkan diatasnya,” sindir Mama dan ayah hanya tersenyum saja.

Kekhawatiran Mama akan kebiasaan Ayah minum kopi berlebihan akhirnya terjadi. Suatu ketika Ayah merasa pencernaannya tidak baik. Lambungnya terasa perih dan kerap mual bahkan muntah setiap kali usai minum kopi. Tanpa diminta Ayah mulai mengurangi kopi.

Dari pengalaman ayah, saya belajar bahwa meminum kopi-pun tidak boleh berlebihan. Rasulullah-pun sudah memperingatkan bahwa segala sesuatu yang berlebihan akan memberikan dampak yang kurang baik.

Bagaimana dengan suami saya? Dia suka kopi, untungnya tidak semaniak Ayah. Dia suka kopi disaat tertentu saja. Sama halnya dengan saya, suami juga terkadang harus pintar memilih kopi agar tidak mengganggu kesehatan.

Pada akhirnya, bukan hanya soal rasanya yang personal. Menikmati kopi juga punya aturannya masing-masing. Setiap tubuh manusia punya sistem peringatan tersendiri ketika menerima asupan makanan ataupun minuman, termasuk kopi.

Mudah-mudahan setiap kopi yang kita nikmati akan memberikan kesenangan dan kesegaran bagi kita, bukan menjadi pemicu hadirnya berbagai masalah kesehatan.

Selamat berkativitas dan selamat menikmati kopi anda !

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s