Piknik Ceria Ke Hutan Kota Banda Aceh

Kadang-kadang, tidak perlu liburan mahal dan mewah untuk mencari bahagia bersama keluarga. Pilihan sederhana seperti piknik bisa jadi alternatif dalam mengisi hari libur kita bersama keluarga tercinta. Seperti saya dan keluarga kecil saya. Minggu lalu, kami piknik ke Hutan Kota, Banda Aceh.

Biasanya setiap hujung minggu, kami memilih mengunjungi orang tua saya di Kota Jantho. Berbeda dengan minggu lalu karena berbagai hal kami tidak bisa traveling ke rumah Nenek-nya Aisyah.

Tidak mau suntuk-suntuk dirumah, usai beberes saya dan suami memutuskan untuk membawa putri kami yang masih semata wayang ini piknik ke Hutan Kota. Kebetulan, cuaca siang itu berawan dan tidak terlalu panas. Selain itu, lokasi Taman Kota yang sangat dekat dengan rumah, sangat membantu kami agar tidak terlalu banyak menghabiskan bbm kendaraan. 😀

Aisyah yang tidak tahu rencana tersebut, terlihat bingung melihat saya mempersiapkan beberapa perlengkapan piknik. “Ummi ngapain sih sibuk-sibuk, itu bekal makanan untuk siapa Mi ? Ummi mau kemana? Ngapain bawa kain lebar Mi? Kok bawa telekum Mi? Ini buku kok di masukin ke keranjang Mi?” dan seterusnya dan seterusnya. (Banyak kali tanya anak ini ! :D)

Dalam kebingungannya, anak saya coba mencerna setiap klu yang dilihatnya. Memang dasar anak cerdas, baru melewati simpang mesra dan berbelok ke arah krung cut, anak ini sudah tau kami akan membawanya kemana.

“Ahaaaaa, Aisyah tahu… kita ke Taman Kota kan? Horeeeeee”, Aisyah bersorak-sorai gembira dan meloncat-loncat di jok mobil sampai terbentur kepalanya :D. Antusiasme Aisyah menjadi-jadi, tidak sabar untuk turun dan membantu saya membawa barang bawaan.

Kami memilih lokasi yang agak teduh dan agak sepi. Maksudnya, biar gak panas dan sepi supaya kami bisa fokus berbincang bersama. Selain itu, biar Ummi dan Abi-nya Aisyah bisa pacaran :D. Maklum, dulu langsung dilamar dan gak sempat pacaran, abis nikah LDR-an, sekolah (kok jadi curcol).

Makan Siang (Meuramin)

20150913_125014[1]
Meuramin
Menemukan tempat yang pas, kami langsung menggelar kain berdiameter lebar, diatas rerumputan yang lumayan padat dan tidak sakit jika diduduki. Karena hari sudah lumayan siang, langsung saja, begitu tiba kami membuka bekal yang telah dipersiapkan tadi.

Dalam nampan yang lumayan besar, kami makan bersama. Air timun yang segar jadi pelepas dahaga yang sangat pas disiang itu. Peserta makan siang itu, bukan hanya kami bertiga saja. Semut-semut yang berkeliaran disekitar tempat kami duduk tiba-tiba merapat dan ikut makan bersama kami. 😀

Histeris sama semut yang mengerubungi hahahaha
Histeris sama semut yang mengerubungi hahahaha

Aisyah histeris melihat semut mengganggu makannya, “Ummi…. ini semut kok ikut makan sama kita !!! iiiiiihhhhh…”. Tidak ingin makan siang kami berubah menjadi drama pertikaian antara Aisyah dan semut, suami saya tiba-tiba memberikan nasihat bijak. “Aisyah, biar semut makan sama kita biar dia ambil beberapa keping makanan kita, dapat pahala loh kasih semut makan. Aisyah fokus sama makanan Aisyah aja, yang penting Aisyah jangan makan semutnya :D” ujar suami saya bijak.

Aisyah yang tadinya bete sama semut, mulai bisa kalem dan rela melihat semut yang sesekali mencomot dan membawa butiran nasi merah kami. Supaya semut-semut itu tidak berkumpul terlalu banyak, saya meletakkan sejumput makanan keatas rumput, sehingga semut bisa beralih dan tidak fokus pada piring nasi kami.

Menanam

Kebetulan siang itu kami juga membawa beberapa buah kegemaran, rambutan dan langsat. Kulit-kulit kami buang ke dalam plastik dan biji-biji tidak dibuang. Abi menyarankan agar biji dikumpulkan dan nanti ditanam dibeberapa tempat disekitar Hutan Kota.

“Biji ini kita tanam, mudah-mudahan bisa hidup dan tumbuh berkembang. Nanti kalau Aisyah sudah besar, Aisyah bisa ingat bahwa kita pernah piknik bersama disini.” kata Abi.

Mudah-mudahan tumbuh dan bisa bermanfaat
Mudah-mudahan tumbuh dan bisa bermanfaat

Mudah-mudahan juga pohon yang tumbuh itu, nantinya bermanfaat bukan hanya bagi manusia tapi juga bagi hewan-hewan yang hidup dihabitat tersebut.

Shalat Dhuzur

Karena waktu dzuhur sudah tiba, usai makan dan rehat sejenak kami menunaikan ibadah shalat dzuhur. Untungnya ada keran air yang bisa kami pergunakan untuk wudhu. Sebelum shalat tadi, suami sedikit menjelaskan bahwa kegiatan kami siang itu adalah untuk menikmati ciptaan Allah dan bersyukur kepada-Nya.

20150913_135133
🙂

Brain wash singkat itu ternyata, cukup positif untuk membangkitkan rasa kagum kami akan karunia alam yang Allah ciptakan. Siang itu, Aisyah shalat dengan sepenuh hati dan tenang.

Konser Mini

Tidak ingin sunyi sepi, saya coba putarkan beberapa lagu dari smartphone. Aisyah yang sudah hafal list lagu dalam perangkat saya itu, request soundtrack film kartun anak Frozen. Seketika gundukan tanah agak tinggi dijadikan panggung konser oleh Aisyah. Lagu berjudul Let it go, For the Fist Time and Forever, Summer, Snowman di lipsing dengan apik oleh anak gadis.

Gadis Alam
Gadis Alam

Atribut seperti mahkota dedaunan serta bunga yang sudah dibuket yang digunakan Aisyah, menambah kemewahan konser mini tersebut :D. Konser yang berlangsung selama +/- 30 menit itu dipandu oleh Abi sebagai pembawa Acara dan Ummi sebagai fotografer sekaligus penonton.

Baca Buku & Bobok Santai

Lelah berkonser ria, kami rehat sejenak. Abi yang sedari tadi bertindak sebagai pembawa Acara, kini berubah menjadi juru cerita. Beberapa kisah dibacakan oleh Abi dan Aisyah terlihat fokus mendengar. Sesekali menyeletuk menyampaikan imajinasinya.

Happy Family
Happy Family

Sambil bobok-bobok santai kami memandang daun-daun diatas kami. Sesekali sinar matahari tembus dan mengintip. Terlihat beberapa sangkar burung diatas pohon yang dihuni anak-anak burung. Selain itu terlihat juga Elang yang terbang mencari makan.

Benar-benar relax …

Ular Tangga

Aisyah memang tidak kenal kata diam sejenak. Urat syaraf motoriknya sangat aktif dan sulit diajak kompromi, seketika ia bangun dan mengubek-ngubek keranjang bekal. “Ahaa… ada ular tangga ni, kita main yuk !!!!”, ajak Aisyah.

Abi yang sedari tadi rajin menghabiskan konsumsi beralih main ular tangga dengan Aisyah. “Ummi main juga ya !”, ajak mereka.

Kami bermain ular tangga dengan sangat seru. Gelak tawa tidak tertahankan ketika Aisyah mentertawakan Abi yang terpaksa turun dari percaturan karena gacoknya ditelan ular (bukan ular beneran ya, tapi gambar ular yang ada di permainan).

20150913_151754[1]
“Aduh, gimana ini caranya biar gak ditelan ular ?”
Sesekali mereka terlibat perdebatan karena ada yang mencoba untuk curang atau dianggap curang :D. Saya sih kalem-kalem aja. Disuruh naik saya naik, kedapatan turun saya turun. Kalau mereka berdua saling menjatuhkan mental, saya justru mendapat dukungan dari keduanya :D.

Setelah sekian lama naik-turun ular tangga, akhirnya permainan itu saya menangkan. Keduanya yang tadi bertekak gak jelas merasa tengsin dan garuk-garuk kepala :D.

Clean Up

Berakhirnya permainan ular tangga, berakhir juga piknik kami siang itu. menjelang azan ashar kami bersiap untuk pulang. Sebelum pulang saya mengajak Aisyah untuk memastikan bahwa tidak ada sampah yang tinggal ditempat kami duduk tadi. Ini adalah bagian dari tanggung jawab untuk menjaga kebersihan lingkungan.

20150913_131613

Aisyah yang sudah terbiasa untuk tidak mudah menyampah, dengan sigap mengumpulkan semua sampah dan memasukkannya ke dalam plastik untuk seterusnya dibuang ke tempat pembuangan sampah.

Alhmadulillah, Let’s go home !!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s