Filosofi Padi

“Kemana saja kalian boleh melangkah, silahkan raih prestasi setinggi-tingginya, silahkan cari rezeki sebanyak-banyak dan sekaya-kayanya. Tapi jangan pernah lupa ‘dasar’! jadilah seperti padi yang semakin berisi semakin merunduk”, begitulah nasihat Ayah kepada saya dan adik-adik saya.

Dasar bahwa kami adalah manusia yang tidak pantas sombong, karena semua manusia itu sama, walaupun sering kali manusia mengkasta-kastakan diri, padahal perbedaan antar manusia tergantung pada iman dan takwanya, itupun hanya Allah yang dapat melihatnya. Hanya Allah yang maha menilai.
Ayah kami yang sedang istirahat di pondok tepi sawah dan sedang menelepon anak-anaknya yang sedang belajar di rantau.
Ayah kami yang sedang istirahat di pondok tepi sawah dan sedang menelepon anak-anaknya yang sedang belajar di rantau.
Dasar bahwa kami adalah anak ayah yang tumbuh besar dalam kesederhanaan, meski terlahir dari keluarga yang punya nama besar dan hidup mudah. Kami tetaplah anak petani, anak alam, bocah petualang yang masa kecilnya terbiasa dengan hewan ternak, bebas bergelantungan di pepohonan, rajin merawat tanaman, dan terbiasa dengan lumpur serta tanah. Ya, tanah yang menjadi dasar manusia diciptakan, tanah yang menjadi median sumber sandang, pangan dan papan kita.
Wajar saja Ayah menasihati kami seperti itu, karena berdasarkan pengalaman hidupnya, beliau kerap berjumpa dengan insan-insan yang sangat menjunjung tinggi filosofi langit, terlihat tinggi dan memandang rendah insan lain. Merasa diri ditempat tinggi dan orang lain beradah jauh dibawahnya, padahal sebelum menjadi orang tinggi, dirinya adalah orang yang harus berusaha payah atau mungkin terpaksa sering menengadah bantuan orang lain untuk hidup. Ketika rezeki Allah dilimpahkan kepadanya, bukannya bersyukur dan sering berbagi malah seperti si puntung mendapatkan tangan atau si Qarun yang mendapatkan harta.
IMG_20150920_183905[2]
Bermain di sawah 🙂
Ayah juga menasihati, ilmu yang didapat bukanlah untuk mendiskriditkan orang lain yang mungkin tidak mendapat kesempatan yang luas sebagaimana kita. Ilmu yang didapat bukanlah untuk menghebat-hebatkan diri. Ilmu yang didapat bukanlah untuk pribadi tetapi harus dibagi. Ilmu yang didapatkan bukanlah untuk membodohi orang lain, tetapi untuk mencerdaskan orang lain. Jangan bersikap sombong dengan ilmu yang dimiliki, karena apa yang kita raih hari ini adalah sedikit ilmu yang Allah berikan. Mungkin tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan ilmu yang Allah miliki.
Mungkin Ayah menyampaikan nasihat ini, karena kerap melihat segelintir orang yang senang berdebat dan ingin menang sendiri ketika menyampaikan pendapat. Orang yang gemar menunjuk-nunjukkan wawasan yang luas karena kerap bepergian atau berteman dengan cendikia hebat sehingga mengkerdilkan mereka yang mungkin tidak pernah keluar dari pekarangan rumah, padahal bisa jadi orang yang tidak pernah kemana-mana itu justru telah berjalan lebih jauh lewat ribuan buku-buku bacaan.
Mereka yang gemar membaca ini juga ada dua jenis, ada yang berpacu membaca karena ingin menunjukkan kecerdasan saat presentasi dihadapan orang, adapula yang membaca untuk memulihkan kehausan jiwanya agar arif dan bijaksana memandang hidup dan menyelesaikan persoalan.
Padi yang semakin berisi semakin merunduk adalah maha karya Allah yang bisa dijadikan teladan. Rendah bukan karena tidak memiliki isi, justru sebaliknya. Rendah bukan untuk merendahkan diri, tetapi merendahkan hati agar banyak orang merasakan manfaatnya. Jangan sampai, kita merasa hebat, kaya, berilmu tetapi gengsi untuk terseyum dan menyapa saat berjumpa dengan insan lainnya.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s