Roti Teladan

Orang tua harus menjadi teladan bagi anak-anak karena mereka adalah peniru yang handal dan mampu menyerap segala informasi yang dipaparkan padanya, seterusnya informasi tersebut dijadikan pedoman hidup. Pernyataan tersebut benar adanya dan pagi ini saya merasakan manisnya buah suri tauladan.

Pagi tadi, kepala saya terasa berat sekali. Jangankan untuk bangkit dari ranjang, membuka matapun saya rasanya hampir tidak sanggup. Mendengar kumandang azan subuh, saya berusaha bangkit untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang Muslimah.

Tidak seperti biasanya, usai ibadah subuh saya akan segera melaksanakan peran sebagai istri dan ibu, yakni mempersiapkan keperluan suami dan anak sebelum mereka beraktifitas diluar rumah. Namun, kali ini saya harus kembali berbaring. Sungguh, kepala yang terasa berat sekali itu tidak dapat diajak kompromi.

Sebelum saya kembali memejamkan mata, suami yang sebelumnya masih terlelap terlebih dulu saya bangunkan. Kepadanya saya memberi tahu kondisi saya dan meminta untuk menjalankan tugas saya di pagi itu. Meski terpejam, sesungguhnya saya tidak terlelap.

Sayup-sayup saya mendengar kesibukan suami dan anak-anak dalam mempersiapkan diri. Sesekali saya bertanya dan mengingatkan hal-hal penting sebelum berangkat beraktivitas, seperti kebersihan diri dan sarapan. Sekilas, dalam tidur yang tidak pulas itu, saya merasakan kening dan pipi saya terasa hangat. Mungkin ini kecupan dari mereka yang siap untuk keluar rumah.

Pukul 09.00 wib, saya terbangun. Merasa perut minta diisi dan suhu ruangan tak lagi nyaman untuk terus terlelap. Sejurus kemudian saya menuju meja makan ingin segera sarapan, selain itu saya juga penasaran sarapan apa yang mereka makan pagi ini ? saya kemudian membuka tudung saji dan menemukan ada roti panggang dan selai coklat.

Sekilas memang tidak ada yang spesial, hanya roti dan selai coklat. Namun, bagi saya ini hal yang spesial. Saya tahu yang membuat roti ini adalah anak perempuan saya, Aisyah Meutuwah. Benar saja, saat saya tanyakan hal ini kepada suami, beliau membenarkan bahwa itu adalah roti yang disedikan oleh Aisyah, anak perempuan kami.

14022267_1159858560704134_28093257000137471_n

Hal yang membuat saya kagum adalah, Aisyah menyajikan roti tersebut, persis seperti sajian yang biasa saya buat. Roti yang panggang berbentuk segitiga itu disusun bertingkat dan disisi roti ada selai coklat. Seketika, saya menyantap roti tersebut dengan perasaan haru, bangga, bahagia dan bersyukur.

Terharu karena dalam diri Aisyah ada empati yang besar terhadap kondisi Ibunya yang pagi itu tidak sanggup menjalani tugas seperti biasanya. Sehingga ia berusaha untuk mengambil peran itu dan mencoba untuk melayani saya. Bangga karena kemampuan ia meniru cara saya menyajikan makanan dan intuisinya yang tajam membuat saya merasa Aisyah adalah anak yang berbakat. Bahagia bahwa Allah memberikan anak secerdas itu kepada saya. Bersyukur karena Aisyah mengambil teladan yang baik dari sekian banyak perkara yang kami contohkan kepadanya. Alhamdulillah.

Dari sini, saya semakin yakin bahwa contoh dan pengajaran yang baik akan memberikan hasil yang baik pula. Hasil ini bukan sekedar untuk dinikmati tetapi menjadi modal dasar bagi sang anak dalam menghadapi tantangan dimasa yang akan datang. Semoga kita semua dalam terus bersemangat memberikan contoh yang baik dan menjadi teladan yang baik lagi bijaksana bagi anak-anak kita. Aamiin..

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s