Kisah Kasih Putih di Pasir Putih

Hari minggu kemarin (26/09/16) jadi hari minggu yang menyenangkan buat keluarga kecil saya. Pasalnya, kami bertiga mengadakan piknik ke Pantai Pasir Putih, Aceh Besar. Piknik ke pantai ini memang sudah kami rancang dengan sangat baik. Piknik ini diselenggarakan juga atas dasar untuk melakukan fisioterapi alami untuk Abi Aisyah yang dalam sebulan terakhir mengalami gangguan ditulang pinggangnya. Dokter menyarankan beliau untuk berenang agar syaraf dan tulangnya membaik.

Aisyah yang kami kabari akan melakukan perjalanan piknik ke pantai ini begitu bergembira. Ya, anak kecil ini selalu antusias jika diajak ke pantai. Aisyah yang masih berusia 8 tahun ini sangat suka sekali dengan air dan olah raga renang. Dengan sigap Aisyah segera menyediakan segala perlengkapan renangnya. Mulai dari Bikini warisan Khalati-nya (tante.red), pelampung, handuk, baju ganti, perlengkapan mandi untuk membilas, hingga make up.

Saya pun tidak mau kalah, agar menghemat perbelanjaan dan biaya liburan. Saya berinisiatif mempersiapkan logistik seperti makanan, minuman, snack, dll. Alhasil dari sejak subuh saya sudah mulai mengeksekusi segala bahan masakan yang telah saya persiapkan sejak malam. Tidak butuh waktu yang lama untuk mempersiapkan semuanya karena masakan yang saya buat cukup sederhana. Ada nasi putih, samballado teri, tempe, kentang, kuah sayur bening, mie goreng, cake bolu, dll.

Suami saya yang juga sangat bersemangat untuk ber-fisioterapi alami turut serta membantu mempersiapkan keperluan piknik agar menjadi sempurna. Perlengkapan renang mulai dari pakaian renang, kacamata renang, silikon anti air, hingga obat-obat yang perlu diminum setelah makan siang disusun rapi dalam tas. Kondisi mobil juga diperiksa agar tidak terkendala di perjalanan.

Akhirnya rangkaian persiapan telah diselesaikan dan tidak lupa terlebih dahulu berdoa kepada Allah agar perjalanan mentadaburi alam ciptaan Allah ini berjalan lancar dan selamat hingga kembali ke rumah. Aamiin…

Sepanjang perjalanan kami nikmati dengan perasaan penuh syukur, bertasbih ketika melihat hal-hal yang indah, memuji keagungan Allah yang telah menciptakan segalanya dengan amat indah dan sempurna. Perjalanan ke wisata pantai wisata pasir putih jadi pengalaman yang berharga bagi Aisyah karena untuk pertama kalinya Aisyah mengetahui dan melihat pelabuhan tempat segala kegiatan perkapalan dilakukan.

Setelah melewati jalan sepanjang 35 km dari Banda Aceh, mendaki gunung, terobang-ambing di mobil karena Abi yang tiba-tiba berlagak seperti pembalap off road, akhirnya tibalah kami ditempat tersebut. Subhanallah.. kami terdiam sejenak menyaksikan hamparan laut biru yang membentang luas, langit yang cerah dan angin yang bertiup lembut. Yang lebih menyenangkan, pantai pasir putih ini amat tenang. Ombaknya tidak besar, ada semacam teluk yang membentuk seperti kolam yang disana nampak aman dan nyaman bagi anak-anak untuk berenang dan bermain tanpa harus takut terhempas ombak besar.

Segera saja kami turun dari kendaraan yang sudah diparkir tidak jauh dari tempat kami akan bersantai. Alas duduk kami bentangkan di bawah pohon rindang. Disana Aisyah juga bisa memanjat tanpa harus takut karena dahannya rendah.Segala bahan logistik kami turunkan satu-persatu. Semua kami lakukan bersama-sama untuk mengajarkan pada Aisyah arti kerjasama dan gotong royong. Alhamdulillah, Aisyah merasa senang karena bisa membantu mempersiapkan tempat.

14372454_1192252974131359_1986035164081378902_o

Aisyah mulai tidak sabar untuk “nyemplung” ke air, tetapi sebelum itu wajib hukumnya saya membekali beberapa aturan berenang di laut. Meskipun kondisinya terbilang aman dan nyaman, Aisyah perlu kami beri pemahaman agar berdoa sebelum berenang. Aturan berikutnya adalah agar tidak berenang terlalu jauh dari tepi pantai, sehingga tetap masih dapat dipantau. Karena cuaca masih terik, Aisyah kami arahkan agar mandi dibawah bayangan pepohonan yang tumbuh didalam air laut. Ini dia lebihnya pantai pasir putih, ada pohon yang berada di dalam air. Kata penduduk sekitar, fenomena tersebut terjadi pasca tsunami, dimana air semakin menjorok ke darat dan pohon-pohon yang tadinya berada jauh dari laut justru kini telah berada dan terendam di dalam laut. Uniknya pohon tersebut tidak mati karena air laut yang asin, malah tumbuh subur dan besar diikuti adanya tunas-tunas kecil yang sekilas dari jauh nampak seperti duri-duri tajam, padahal tidak tajam. Di bawah pohon ini di dasar air ada akar-akar pohon yang menjadi tempat persembunyian ikan dan tempat ikan mencari makan juga berkembang biak.

capture-2

Usai pembekalan dan menyemprotkan beberapa cairan anti iritasi, ananda Aisyah siap meluncur. “Airnya hangat Ummi, asyik sekali !!!” teriak Aisyah yang bahagia. Saya dan suami hanya tersenyum melihat aksi dan ekspresi anak kami tersebut. Bahagia sekali bisa melihat senyum si buah hati meski hanya dengan wisata yang murah meriah seperti yang kami lakukan. Dalam hati saya berdo’a, agar kami senantiasa terus-menerus menjadi orang yang pandai bersyukur dan selalu ingat kepada Allah.

capture-3

Di tepi pantai, dibawah pohon khas pantai, bak pasangan muda-mudi yang sedang dimabuk asmara, saya dan suami memadu kasih putih di pasir putih. Kami saling memberikan perhatian, pujian, sentuhan, bercerita tentang impian-impian, sehingga menyegarkan kembali rasa cinta kami yang hampir tiba diusia 11 tahun. Rasa sayang kian membuncah kala suami mendaratkan beberapa kecupan hangat dikulit saya yang mulai tidak kencang. Bahagia memenuhi rongga jiwa, bagaimana tidak hari itu kami saling berkasih sayang tanpa perlu merasa berdosa. Pernikahan yang telah kami jalani ini telah dilalui dengan berbagai suka duka. Pacaran setelah menikah membuat kami selalu merasa bahagia dan bersyukur karena apa yang kami curahkan bernilai ibadah dimata Allah. Kami yakin Allah senang melihat kami bercinta karena-Nya. Hal ini juga jadi pengajaran bagi Aisyah anak kami, bahwa pacaran setelah menikah adalah lebih diridhai Allah dibandingkan pacaran sebelum menikah. Bahwa ridha Allah yang paling utama diatas segalanya. Ridha dari Allah membawa kita kepada kebahagiaan hakiki.

Usai shalat dzuhur dan makan siang sederhana dan melihat matahari berkurang teriknya, saya dan suami segera ikut bermain air bersama Aisyah. Kami berenang seperti ikan, berwara-wiri tiada henti. Abi yang lihai sekali dalam olah raga renang kala itu memainkan perannya sebagai pelatih. Kami berlatih agar bisa menguasai olah raga yang disunnahkan oleh Nabi Muhammad SAW. Aisyah sesekali tertawa dan mengejek melihat saya yang tak lentur dalam aksi berenang. Saya tersipu jika Aisyah menyoraki Abinya yang tiba-tiba datang dari dalam air menyergap saya. Aisyah pun demikian, usil mengganggu saya yang senang mengapung diatas air. Alhamdulillah..

capture

 

Enam jam sudah kami menikmati sekeping syurga Allah di bumi, kami merasa puas dan bersyukur. Lelah mulai terasa namun tubuh serta fikiran yang bugar juga memenuhi kami. Kami menyulap mobil bagian belakang menjadi ruang ganti yang ditutupi oleh alas duduk. Semua telah berganti pakaian kering dan semua logistik yang habis telah dinaikkan keatas kendaraan. Kami berniat untuk pulang lebih awal agar dapat shalat Ashar di rumah.

Dengan membaca doa dan berucap syukur yang tiada henti kepada Allah, kami kembali ke rumah kami dengan tekad akan menjadikan hari-hari berikutnya lebih baik dan lebih taat beribadah kepada Allah SWT. Aamiin…

 

Catatan: 
Terima kasih Abi Aisyah tercinta.
Semoga Allah merahmati, meridhai, membahagiakan dan memudahkan urusan serta rezeki Abi Aisyah. Sehat selalu ya Abi sayang…
Peluk dan cium cinta karena Allah

Ummi Aisyah dan Aisyah Meutuwah

Advertisements

4 Comments Add yours

  1. rahmattrans says:

    Wah.. sudah lama sekali saya tidak kesini lagi. Sekarang udh pada rame ya kalau hari minggu? Mau lah kesitu lagi… hehe 😀

    Like

    1. Sukma Hayati says:

      Bener Pak, sudah ramai. Tapi masih tak sepadat Lampuuk. Ajak keluarga Pak kalau kesana. Asyik..

      Liked by 1 person

      1. rahmattrans says:

        Wah.. kalau ajak kluarga blm bisa nih… soalnya blm brkluarga.. hehehe 😀 baiklah.. spertinya seru kesana krn soalnya saya ngk suka keramaian. Kalau terlalu rame, kita nya nggk bisa mnikmati… 😀

        Like

        1. Sukma Hayati says:

          hahaha, mudah-mudahan segera berkeluarga ya Pak. Sip deh Pak.

          Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s